Guru Pengabdi Itu Telah Berpulang: Air Mata Mengiringi Kepergian Bu Nety, Jejak Ketulusan Nya Abadi Di Hati Murid Dan Masyarakat

Guru Pengabdi Itu Telah Berpulang: Air Mata Mengiringi Kepergian Bu Nety, Jejak Ketulusan nya Abadi di Hati Murid dan Masyarakat

UMBUL JAYA,LEBAK || RBN.CO.ID – Tangis duka masih menyelimuti Kampung Ciapus, Desa Umbuljaya, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak-Banten. Tanah di pusara Junaeti, atau yang akrab disapa Bu Nety, bahkan masih basah. Namun kepergian guru muda yang mengabdikan hidupnya di pelosok pedalaman Lebak itu telah meninggalkan jejak ketulusan yang akan dikenang sepanjang masa.


Bu Neti mengembuskan nafas terakhirnya pada beberapa hari lalu setelah mengabdikan dirinya selama kurang lebih 17 tahun sebagai tenaga pendidik di SDN Negeri 2 Umbuljaya. Kepergian nya menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia pendidikan, para murid, rekan sejawat, hingga masyarakat yang mengenalnya.


Ironisnya, kebahagia'an baru saja menghampiri almarhumah. Setelah bertahun-tahun mengabdi dengan penuh kesabaran, ia akhirnya diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun takdir Allah SWT berkata lain. Kebahagia'an itu hanya sempat ia rasakan dalam waktu yang singkat, namun, bukti perjuangan tetap melekat.


Di mata rekan-rekan nya, Bu Neti adalah sosok perempuan sederhana yang memiliki keteguhan hati luar biasa. Ia dikenal tegas dalam memegang prinsip, penuh kasih kepada anak-anak, dan tak pernah lelah mengajarkan ilmu meski harus menghadapi berbagai minus meski pun dalam banyak keterbatasan yang bukan sebagai penyandang GUDACIL (Guru Daerah Terpencil) yang diduga nyaris luput dari perhatian dunia luar.


Setiap hari, ia berjalan kaki sekitar dua kilometer melewati jalan berbukit, licin, bahkan berlumpur ketika musim penghujan demi tiba di sekolah tepat waktu. Perjalanan yang bagi sebagian orang terasa berat, justru dijalani Bu Neti dengan senyum dan rasa syukur, ia bangga dapat berkarya tsrlebih pada desa nya dimsna ia dilahirkan.


"Beliau hampir nyaris tidak pernah mengeluhkan keada'an. Yang kami lihat setiap hari hanyalah semangat, ketulusan, dan kasih sayangnya kepada anak-anak didik," tutur salah seorang guru SDN 2 Umbuljaya yang meminta identitasnya disamarkan.


Menjelang tahun ajaran baru, Bu Neti bahkan dikenal sebagai guru yang paling bersemangat menyambut murid-murid baru. Kini, ruang kelas yang biasa dipenuhi canda dan tawanya terasa sunyi.


Duka mendalam juga dirasakan keluarga besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).


Tokoh PGRI setempat yakni Eva Fakhromi,M.pd Ketua PGRI Cabang Banjarsari-Lebak,Banten, mengaku sangat terpukul atas kepergian putri asli Desa Umbuljaya tersebut.


 "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami segenap keluarga besar PGRI merasa sangat kehilangan. Bu Neti adalah anak daerah yang memilih mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak-anak di kampung halamannya sendiri. Setelah 17 tahun mengabdi dan baru saja diangkat menjadi PPPK, Allah memanggilnya dalam usia yang masih muda. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," ujarnya kepada Radar Berita Nasional.co.id Jum'at pagi (10/7/2026).


Kepergian Bu guru Neti juga menyisakan kisah yang menggetarkan hati. Ia meninggalkan dua anak yang masih berusia balita. Semasa hidupnya pun, ia belum sempat memiliki rumah sendiri dan masih tinggal bersama kedua orang tuanya di Kampung Ciapus, Desa Umbuljaya.


Di rumah "berduka", keluarga, tetangga, sahabat, serta para guru rekan sejawat silih berganti datang mengantarkan do'a dan penghormatan terakhir. Isak tangis pecah setiap kali mengenang sosok perempuan sederhana yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak di pelosok desa.


Perwakilan keluarga (kakak kandung) Almh, Sitinurjanah (47) mengucapkan terima kasih atas seluruh do'a dan perhatian yang diberikan.


 "Kami memohon do'a agar almarhumah diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Kami juga memohon maaf apabila semasa hidup beliau memiliki kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja," ucapnya lirih penuh perasa'an.


Kisah hidup Bu Guru Neti menjadi cermin perjuangan ribuan guru di daerah terpencil Indonesia. Mereka mengajar tanpa mengenal lelah, menembus jalan yang sulit, menghadapi keterbatasan fasilitas, namun tetap setia berdiri di depan kelas demi menyalakan harapan anak-anak bangsa.


Bu Neti mungkin telah berpulang. Namun semangat, ketulusan, dan pengabdiannya akan terus hidup di hati para murid yang pernah diajarnya, di ingatan rekan-rekan sejawatnya, dan di tengah masyarakat yang menyaksikan sendiri perjuangan nya.


Kepergian seorang guru memang meninggalkan bangku kosong di ruang kelas. Tetapi nilai-nilai yang ditanamkannya akan terus tumbuh menjadi cahaya bagi generasi penerus.


Selamat jalan, Bu Neti. Jasamu tak akan pernah terkubur bersama tanah yang masih basah. Engkau telah mengajarkan bahwa menjadi guru bukan sekedar profesi, melainkan panggilan jiwa untuk mengabdi dengan cinta. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin'.


Pewarta : Redaksi

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to access array offset on value of type null

Filename: portal/visitor_counter.php

Line Number: 13