PB PMII Luncurkan Tim Khusus Ekologi, Dorong Keadilan Iklim Dan Pembangunan Berkelanjutan

PB PMII Luncurkan Tim Khusus Ekologi, Dorong Keadilan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan

JKT || RBN.CO.ID  – Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) resmi meluncurkan Tim Khusus Ekologi sekaligus menggelar diskusi publik bertajuk "Deforestasi dan Keadilan Iklim" dengan tema "Investasi Hijau atau Hijau yang Diinvestasikan: Menakar Komodifikasi Hutan dan Masa Depan Ekologi Indonesia" di Koat Coffee, Menteng, Jakarta, Senin (6/7/2026).


Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, legislatif, dan lembaga negara, yakni Penasihat Utama Menteri Kehutanan RI , Anggota Komisi XII DPR RI , serta Anggota .


Dalam pemaparannya, Silverius Oscar Unggul atau yang akrab disapa Bang Onte menegaskan bahwa paradigma pembangunan nasional harus mulai mengubah cara pandang terhadap hutan. Menurutnya, hutan tidak lagi hanya diposisikan sebagai sumber kayu, melainkan sebagai aset ekologis yang memiliki nilai ekonomi ketika dijaga dan dipulihkan.


Ia menjelaskan, perdagangan karbon menjadi salah satu peluang besar bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki kawasan hutan tropis yang luas. Melalui pelestarian dan rehabilitasi hutan, Indonesia tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga berkontribusi dalam pengendalian perubahan iklim global.


Silverius juga menyoroti berkembangnya konsep pertanian regeneratif yang mengintegrasikan tanaman kehutanan dengan komoditas bernilai ekonomi, seperti kopi dan kakao. Pendekatan tersebut dinilai mampu membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan secara beriringan.


"Kalau dulu ekonomi dan ekologi sering dianggap saling bertolak belakang, sekarang justru ekologi yang baik akan melahirkan ekonomi yang baik. Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan kesejahteraan dengan menjaga dan memulihkan lingkungan," ujarnya.


Ia turut mengapresiasi langkah PB PMII membentuk Tim Khusus Ekologi sebagai wadah bagi generasi muda untuk lebih aktif mengawal berbagai isu lingkungan hidup.


Sementara itu, Syafruddin menyoroti tantangan Indonesia dalam menyeimbangkan kebutuhan energi nasional dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, sektor pertambangan masih menjadi salah satu penyumbang kerusakan lingkungan, sementara Indonesia masih sangat bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama.


Ia menyebut Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia, sedangkan sekitar 80 persen pembangkit listrik nasional masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Kondisi tersebut membuat proses transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan tidak dapat dilakukan secara instan dan memerlukan strategi yang matang.


Syafruddin juga mengingatkan pentingnya pelaksanaan amanat Pasal 33 UUD 1945 agar pengelolaan sumber daya alam benar-benar ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis dalam mengawal kebijakan negara agar pembangunan ekonomi tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kepentingan generasi mendatang.


Pada kesempatan yang sama, Ghufron Mabruri menekankan pentingnya membangun perspektif environmental security atau keamanan lingkungan sebagai bagian dari sistem keamanan nasional.


Menurutnya, ancaman terhadap lingkungan hidup tidak hanya berdampak pada kerusakan alam, tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial, sengketa agraria, hingga gangguan terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.


Ia menilai aparat kepolisian perlu mengadopsi pendekatan lingkungan dalam menjalankan tugasnya, tidak hanya melalui penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan, tetapi juga melalui langkah-langkah pencegahan, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor.


"Persoalan lingkungan tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah atau aparat penegak hukum semata. Dibutuhkan sinergi bersama kementerian, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, media, dan mahasiswa untuk membangun tata kelola lingkungan yang berkeadilan," katanya.


Ghufron juga mengapresiasi pembentukan Tim Khusus Ekologi PB PMII dan berharap keberadaannya tidak hanya menjadi simbol organisasi, tetapi mampu menjadi motor penggerak aksi nyata dalam pengawasan, advokasi, pendidikan publik, serta penguatan kolaborasi menghadapi berbagai bentuk kejahatan lingkungan.


Peluncuran Tim Khusus Ekologi PB PMII menjadi penegasan komitmen organisasi mahasiswa tersebut dalam mendorong keadilan iklim, meningkatkan kesadaran ekologis generasi muda, serta mengawal kebijakan pembangunan agar mampu menghadirkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.***


Supriadi

Editor : Dewi Sari.

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to access array offset on value of type null

Filename: portal/visitor_counter.php

Line Number: 13