Pencak Silat Dan Seni Betawi - Tangerang Kembali Dihidupkan, Di Pimpin Langsung Goim, Orang Nomor 1 Di Pangkalan
Tangerang Kab ||RBN.CO.ID- Tradisi pencak silat dan seni budaya perpaduan Betawi -Tangerang kembali diaktifkan di Desa Pangkalan Kec.Teluknaga Kab.Tangerang. Kegiatan pelestarian budaya ini dipimpin langsung oleh Ahmat Muhrim,S.ip akrab di sapa Goim ,selaku kades di pemdes pangkalan,dan kali ini pun berlangsung pada rabu 28 Januari 2026. Di bawah kepemimpinan Kades Goim, berbagai kegiatan seni dan budaya terus digalakkan. Tidak hanya melibatkan pemuda-pemudi, kegiatan ini juga merangkul masyarakat dari berbagai usia, sehingga suasana kebersamaan dan semangat pelestarian budaya semakin terasa.
“Pak Lurah Goim selalu menghadirkan kegiatan yang membangkitkan antusiasme warga. Baik pemuda maupun orang tua, semuanya dilibatkan dalam acara budaya,” ujar Andika salah satu warga. Aktivitas pencak silat di Desa Pangkalan turut didukung oleh para tokoh masyarakat, di antaranya Ketua RW BM, Mandor Kambil, serta rekan-rekan komunitas silat. Mereka secara rutin mengaktifkan latihan pencak silat yang juga sering ditampilkan dalam berbagai acara adat, termasuk tradisi palang pintu.
• Ciri Khas Pencak Silat Betawi-Banten
Pencak silat yang berkembang di wilayah Kabupaten Tangerang banten umum nya dipengaruhi aliran Betawi dan Banten, seperti Terumbu, Bandrong, Cingkrik dan Tjimande Tarikolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH). Yang beraliran sunda betawi campuran konon terlahir dari tanah kebon jeruk jakbar.
• Gerakan nya memiliki ciri khas:
Sikap pasang rendah dengan kuda-kuda kokoh, khas silat Betawi-Banten.
Permainan langkah kaki yang lincah dan variatif untuk mengecoh lawan.
Gerakan tangan cepat, fokus pada tangkisan dan serangan jarak dekat.
Unsur seni dan tenaga dalam, yang memadukan keindahan gerak dan teknik pernapasan.
Pelestarian pencak silat di Desa Pangkalan dinilai bukan sekadar olahraga bela diri, tetapi juga sebagai identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tokoh masyarakat setempat berharap kegiatan ini terus berlanjut dan mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat serta pemangku kepentingan. Dengan demikian, pencak silat dan seni Betawi tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Penulis : Misan
Editor : Dewi S.