PERISAI Dan GMNI Sikapi May Day 2026, Siap Aksi Di DPR Sa'at Buruh Berkumpul Di Monas !!

PERISAI dan GMNI Sikapi May Day 2026, Siap Aksi di DPR Sa'at Buruh Berkumpul di Monas !!

JAKPUS || RBN.CO.ID - Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis (PERISAI) bersama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menyampaikan sikap menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) yang akan digelar pada 1 Mei 2026.


Sejumlah serikat buruh diketahui akan memperingati May Day di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, dengan rencana kehadiran Presiden Prabowo Subianto.


Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara PERISAI, Saifullah Wathoni, menyatakan bahwa keputusan serikat buruh untuk memperingati May Day di Monas merupakan hak masing-masing organisasi.


Namun demikian, ia menegaskan bahwa esensi May Day seharusnya tetap berada dalam semangat perjuangan.


“May Day itu bentuk perlawanan terhadap penindasan, bukan pesta pora di tengah situasi rakyat saat ini,” ujar Wathoni dalam konferensi pers di Sekretariat GMNI Jakarta Selatan (30/4/26).


PERISAI juga menilai bahwa Hari Buruh Internasional bukan hanya milik kaum buruh, melainkan seluruh rakyat yang merasa mengalami ketidakadilan.


Di sisi lain, PERISAI memastikan akan menggelar aksi massa di depan Gedung DPR/MPR RI pada 1 Mei 2026. 


Aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan nasional yang melibatkan berbagai elemen, mulai dari buruh, petani, mahasiswa, hingga pekerja informal seperti pengemudi ojek online.


Ketua GMNI DKI Jakarta, Deodatus Sunda, turut menegaskan pentingnya menghormati pilihan setiap kelompok dalam memperingati May Day.


Ia juga mengingatkan agar tidak ada stigma negatif terhadap aksi yang digelar di lokasi berbeda.


“Jangan sampai muncul narasi bahwa aksi di DPR itu rusuh. Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi,” kata Deodatus.


“May Day Bukan Pesta” atau Narasi Perlawanan di Tengah Polarisasi Gerakan Buruh

Peringatan May Day 2026 memperlihatkan adanya dua pendekatan berbeda dalam gerakan buruh dan rakyat di Indonesia.


Di satu sisi, sebagian serikat buruh memilih pendekatan kolaboratif dengan menghadiri peringatan di Monas bersama pemerintah. Di sisi lain, PERISAI dan sejumlah organisasi mahasiswa tetap mempertahankan tradisi aksi jalanan sebagai bentuk kritik langsung terhadap kekuasa'an.


Tema “May Day Bukan Pesta” yang diusung PERISAI mencerminkan kegelisahan sebagian kelompok terhadap kondisi sosial-ekonomi yang dinilai belum berpihak pada rakyat.


Narasi ini menegaskan bahwa May Day bukan sekedar seremoni, melainkan momentum politik untuk.


• Menyuarakan ketimpangan sosial

• Mengkritik kebijakan pemerintah

• Menguatkan solidaritas lintas sektor rakyat


Menariknya, PERISAI tidak menolak pilihan kelompok lain yang merayakan di Monas. Namun mereka menekankan pentingnya menjaga ruh perjuangan dalam peringatan tersebut. Perbedaan strategi ini menunjukkan dinamika dalam gerakan sosial Indonesia.


Pendekatan institusional (dialog dengan pemerintah)

Pendekatan konfrontatif (aksi massa dan tekanan publik)


Keduanya mencerminkan cara berbeda dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya pada metode perjuangan, tetapi bagaimana seluruh elemen gerakan tetap menjaga persatuan tanpa saling mendeligitimasi.***


Pewarta : Supriadi Oleng (Korwil JP)

Editor     : Dewi Sari.

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to access array offset on value of type null

Filename: portal/visitor_counter.php

Line Number: 13