“Kaki Telanjang Di Pesisir Pantura, Keteguhan Wiyata Melawan Usia Dan Laut Pantura"
TANGUT ||RBN.CO.ID-Wiyata, menantang Usia dan Ombak demi Segenggam Harapan, di pesisir Pantura Tangerang Utara, sapa'an akrab Caca warga Kampung Teko Indah, Desa Karang Serang, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang–Banten, hidup seorang nelayan tradisional yang setia pada laut sepanjang hidupnya. Memiliki nama lengkap Wiyata, usia 75 tahun, seorang kakek dengan sembilan cucu, (13/01/26).
Puluhan tahun telah ia habiskan sebagai pencari ikan tradisional. Usia yang renta tak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti. Setiap pagi, tubuhnya yang mulai ringkih tetap melangkah pasti menuju pantai, mengandalkan perahu kecil jenis jukong sederhana dan alat tangkap seadanya. Laut baginya bukan sekedar tempat mencari nafkah, melainkan ruang hidup yang penuh harapan, meski kerap mengecewakan.
Dengan kaki telanjang tanpa alas, Wiyata menebar jaring ke laut dangkal setinggi pinggang orang dewasa. Jaring itu membentang puluhan hingga ratusan meter, diseret dengan sisa tenaga yang ia miliki. Harapan-nya sederhana, sa'at jaring diangkat kembali ada ikan yang terperangkap, cukup untuk dibawa pulang.
Namun kenyata'an tak selalu berpihak. Tak jarang jaring itu terangkat dalam keadaan nyaris kosong, hanya air laut dan rasa lelah yang tersisa.
Meski begitu, semangatnya tak pernah surut. Dalam sehari, ia bisa dua hingga tiga kali turun ke laut. Pagi hari menebar jaring, siang kembali mengecek, dan selepas Isya sekitar pukul 19.30 WIB, ia turun lagi ke laut yang gelap dan dingin.
“Setiap hari saya turun nyeker (Tak beralas kaki-Red) ke laut, sudah biasa Pak. Mau gimana lagi..? Nasib saya jadi nelayan kecil, nangkep ikan pake alat seadanya,” ujar Wiyata lirih namun tegar.
“Saya nggak punya alat canggih seperti orang-orang yang di tengah laut pakai kapal besar. Saya cuma begini. Pagi, siang ngecek jaring, malam turun lagi. Begitu tiap hari.”lagi katanya.
Hasil tangkapannya pun jauh dari kata melimpah. Sekali angkat jaring, kadang hanya dua ekor ikan yang tersangkut. Sesekali, jika sedang bernasib baik, ia bisa membawa pulang dua kilogram ikan. Namun hal itu jarang terjadi dan tak bisa diharapkan setiap hari.
Namun bagi Wiyata, dua ekor ikan pun tetap berarti. Itu adalah bukti bahwa hari itu ia masih mampu berdiri, melawan ombak, dan memberi makan keluarga kecil yang sangat ia cintai.
Di usia senjanya, Wiyata mengajarkan satu hal yang tak pernah lapuk dimakan zaman, keteguhan hati, kesederhana'an, dan keikhlasan dalam bekerja. Di tengah modernisasi dan kapal-kapal besar yang menguasai lautan, langkah kecil seorang nelayan tua dengan kaki telanjang justru menjadi potret ketahanan hidup yang paling jujur dan menyentuh.
Laut mungkin tak selalu ramah, tetapi Wiyata tak pernah berhenti percaya bahwa selama ia masih mampu melangkah, harapan akan selalu ada.***
Pewarta : Dewi Sari/Taer.