Prof. Sutan Nasomal: Contoh Negara Terkuat Dalam Sejarah Bukan Berasal Dari Demokrasi Barat

Prof. Sutan Nasomal: Contoh Negara Terkuat dalam Sejarah Bukan Berasal dari Demokrasi Barat


Jakarta ||Rbn.co.id- Momentum peringatan berbagai Hari Ulang Tahun (HUT) di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi refleksi penting bagi perjalanan demokrasi, kemanusiaan, keamanan, dan kedaulatan bangsa. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional, saat menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media cetak dan online, baik nasional maupun internasional, di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, Jakarta, melalui sambungan telepon seluler, Kamis (8/1/2026).


Menurut Prof. Sutan Nasomal, kondisi demokrasi di Indonesia saat ini masih menunjukkan wajah yang relatif baik dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia juga meyakini bahwa Presiden RI Prabowo Subianto tidak akan melupakan sejarah serta memiliki kemampuan untuk menjaga dan menyelamatkan NKRI dari berbagai ancaman, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.


Prof. Sutan Nasomal menilai bahwa dunia saat ini terpecah ke dalam dua kubu besar kekuatan global. Selama lebih dari 20 tahun terakhir, kekuatan ekonomi dunia diuji melalui perang dagang, perang teknologi, hingga perlombaan pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista).


“Dari evaluasi tersebut, kini semakin jelas negara mana yang benar-benar kuat dan mampu bertahan,” ujarnya.


Ia menegaskan bahwa tidak semua negara yang menganut paham demokrasi mampu menjadi maju, stabil, dan sejahtera. Sebaliknya, terdapat negara-negara yang tidak mengikuti pola demokrasi Barat, namun justru berkembang pesat, tenang, damai, dan tidak mudah ditekan oleh kekuatan global.


Dalam pandangannya, Prof. Sutan Nasomal menyebut bahwa sejumlah negara demokrasi justru terjebak dalam kemiskinan, utang, bahkan konflik internal dan perang saudara. Ia menilai propaganda demokrasi kerap digunakan sebagai alat politik dan ekonomi oleh negara-negara besar.


“Demokrasi yang disebut jujur dan adil itu pada praktiknya tidak pernah benar-benar ada. Angka kemenangan pemilu sering kali merupakan hasil kepentingan politik, bukan murni kehendak rakyat,” tegasnya.


Ia juga menyoroti kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilai membangun ratusan pangkalan militer di berbagai belahan dunia untuk mengamankan kepentingannya, sekaligus menjadi bagian dari konflik di Timur Tengah dan Asia.


Prof. Sutan Nasomal menyebut China sebagai satu-satunya negara yang tidak bisa ditekan oleh Amerika Serikat. Menurutnya, China tidak menganut demokrasi liberal, namun mampu menjadi raksasa industri, ekonomi, teknologi, dan militer dunia.


“China tidak perlu demokrasi ala Barat. Selama ribuan tahun sejarahnya membuktikan bahwa sistem yang mereka bangun mampu bertahan dan tidak dijajah,” ujarnya.


Ia menilai Partai Komunis China berhasil melakukan revolusi sosial dan ekonomi tanpa harus mengorbankan kedaulatan bangsa, serta tidak menjajah negara lain. China, lanjutnya, justru membuka pintu kerja sama ekonomi dan pembangunan bagi ratusan negara di dunia.


Lebih jauh, Prof. Sutan Nasomal mengingatkan bahwa sekitar 1.000 tahun lalu, kawasan Timur Tengah berada pada puncak kejayaan di bawah kerajaan-kerajaan Islam, dengan ekonomi kuat dan peradaban maju. Kemunduran terjadi ketika wilayah tersebut terpecah akibat propaganda modernisasi dan demokrasi Barat.


“Negara kerajaan yang tidak mengadopsi demokrasi justru banyak yang tetap maju, kaya, dan stabil hingga hari ini,” katanya.


Ia memprediksi bahwa dalam 100 tahun ke depan, demokrasi kemungkinan besar tidak lagi menjadi pilihan utama di sejumlah negara Timur Tengah.


Sebagai penutup, Prof. Sutan Nasomal mengingatkan bahwa jauh sebelum era penjajahan, Kerajaan Sunda Nusantara dan kerajaan-kerajaan besar di wilayah Indonesia pernah menjadi kekuatan dunia dengan peradaban tinggi, tanpa tunduk pada paradigma politik Barat.


“Sejarah jangan pernah dilupakan. Dari sejarah itulah kita bisa menilai, apakah hari ini kita sedang maju atau justru mundur jauh,” pungkasnya.


(Tim)


Narasumber:

Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH

Pakar Hukum Internasional & Ekonom Nasional

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to access array offset on value of type null

Filename: portal/visitor_counter.php

Line Number: 13